Taubat Bumi; Menggagas Role Model Ecoliteracy Di Lingkungan Masyarakat Urban

Yusa’ Farchan
Pengamat Politik Citra Institute
Peminat Kajian Sosiologi Perkotaan dan Lingkungan

Tak jauh dari rumah musisi besar Iwan Fals, Sungai Cikeas mengalir, meliuk mengikuti garis tepi di sisi timur Perumahan Buki Golf Cibubur.

Dari dalam cluster Riverside 1, daerah aliran sungai dapat dilihat setidaknya dari lima titik spot di dalam cluster elite tersebut dengan karakteristik view yang berbeda-beda.

Puluhan pohon pinus menjulang tinggi, menunjukkan usianya yang tak lagi muda. Tak hanya di area bantaran sungai, rimbun pepohonan pinus juga tampak menghijaukan sebagian besar area cluster tempat bermukimnya kelas menengah atas perkotaan tersebut.

Rerumputan hijau yang terhampar rapi membuat area bantaran semakin eksotis. Kicau burung sesekali bersahutan, tanda munculnya persahabatan alam dan keseimbangan ekologi.

Suasana tenang, hijau, dan rindang ini menjadikan area bantaran sebagai spot favorit sejumlah warga untuk “ngopi bareng”. Seduhan kopi lokal, dari oplet hingga Puntang, yang disajikan dengan teknik ala kopi tubruk, maupun pour over V60, semakin membuat gayeng suasana. Diskusi ringan sembari ngopi sore atau sarapan pagi kerap digelar. Temanya pun mengalir, dari ekologi, ekonomi, politik, agama hingga filsafat dan sains modern.

Tanpa moderator dan speakers berbayar ala conference atau seminar-seminar formal, forum sharing ide tersebut semakin menggairahkan ketika cemilan sehat berupa singkong, kacang dan pisang rebus dihidangkan. Kadang-kadang sate daging sapi menjadi selingan, sebagai ajang promosi produk kuliner lokal warga Bukit Golf yang tergabung di Bukit Kuliner.

Tepat di seberang spot “ngopi bareng” di bantaran itulah rumah Harris Delyono, seorang pegiat, pecinta sekaligus penggerak lingkungan hijau. Sosoknya sederhana, kreatif dan friendly bagi semua kalangan. Dari rumah eksotik inilah gagasan mulia itu muncul 13 tahun silam. Ide-nya sederhana tapi visioner, bagaimana alam diperlakukan dengan baik dan bersahabat.

Pria paruh baya ini mengusung gerakan “Taubat Bumi”, sebuah falsafah hidup yang merefleksikan bentuk pertaubatan atas perilaku manusia yang jahat terhadap alam. Tak ada yang muluk-muluk, motivasi dasarnya hanya ingin berkontribusi agar lebih bermanfaat bagi lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Pria dua anak ini ingin meninggalkan sesuatu sebagai warisan nilai bagi generasi mendatang, sekaligus membangun role model hidup bermasyarakat yang lebih baik di kawasan urban.

Kerja kerasnya selama kurang lebih 13 tahun membuahkan hasil. Bantaran sungai yang sebelumnya terlihat kotor penuh sampah dan tidak terawat dengan baik, kini berubah drastis menjadi spot favorit warga untuk “nongki-nongki”. Area terbuka di lingkungan cluster Riverside 1 yang sebelumnya kurang asupan pepohonan, kini terlihat rindang dan penuh asupan udara segar. Kabut tipis seringkali menyelimuti area bertopografi bukit tersebut, baik di saat pagi maupun malam hari.

Dalam diskusi ringan beberapa waktu lalu, ia mengatakan “Saya melihat potensi yang bagus di Bukit Golf ini, yaitu komposisi demografi dan kontur alam”. Terkait komposisi demografi, warga Bukit Golf memang didominasi oleh kalangan well educated, kelas menengah atas, karyawan, dan berusia muda. Kondisi ini merefleksikan potret kaum urban yang dinamis. Sementara itu, terkait kontur alam, Bukit Golf memiliki kontur yang indah, udara bersih dan sehat, dialiri sungai, serta menjadi perpaduan lingkungan pedesaan dan perkotaan.

Selama ini, menurut Pak Haris (begitu ia sering disapa), masalah utama yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat urban di manapun relatif sama yaitu degradasi daya dukung lingkungan, yang berdampak polusi terhadap air, udara dan suara; merosotnya derajat quality life dan intimacy warga, serta terbatasnya kegiatan pasca pensiun, bagaimana merubah killing time menjadi meaning time. Character building anak juga menjadi problem krusial masyarakat urban karena massifnya penggunaan narkoba, riuhnya lalu lintas informasi, dan perubahan landscape bisnis serta dunia kerja.

Berangkat dari kondisi itulah, ia mengurai konsepnya ke dalam beberapa tahap dalam planning besarnya. Tahap pertama disebutnya sebagai fase penataan ekologi; diikuti tahap kedua yaitu fase edukasi; dan ketiga, fase ekonomi.

Tahun 2008, tepat dua bulan setelah pensiun dini, ia mulai memilih lokasi rintisan, setelah sebelumnya gagal mengajak beberapa sahabat almamater pada 2007. Tahun 2009, ia mulai menanam pohon dengan cara membeli, sekaligus menanamnya sendiri. Lokasi tanam adalah sekitar cluster tempat tinggal, Riverside 1. Selang dua tahun berikutnya (2011), ia mencoba melakukan pendekatan ke warga Riverside 1. Usahanya tak sia-sia karena mendapatkan dua belas orang donatur. Pada 2012, ia memberanikan diri melobby Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Kemenhut dan berhasil mendapatkan sokongan lebih dari 10 ribu bibit pohon.

Agar tidak membebani warga, tahun 2013 ia menghentikan donasi warga Riverside 1. Selain itu, ia juga memperluas lokasi tanam yang menjangkau cluster lain. Pada tahun inilah ia membuat lokasi “nongkrong” di bantaran sungai sebagai tempat sharing gagasan seraya “ngopi bareng”. Untuk menunjang sarana komunikasi, display dan lokasi transit bibit dari Kemenhut, pada 2014 ia membangun Pojok Pinus. Sasaran lokasi tanam juga diperluas, menjangkau Perumahan The Address dan Kampung Sanding 2, Desa Bojong Nangka, Kecamatan Gunung Putri, Kab. Bogor.

Pada 2015, ia menggandeng beberapa warga Riverside 1 untuk membangun komunitas hijau, dan merintis kegiatan edukasi lingkungan yang bersifat rekreatif. Pada fase inilah mulai muncul fungsi Pengurus Lingkungan dan Pembangunan di organisasi RW. Pada 2016 hingga 2018, mulai berjalan rintisan diskusi, presentasi terkait konservasi lingkungan, edukasi, dan kesehatan di internal cluster Riverside 1. Beberapa sahabat diajak untuk membeli kavling di bantaran guna memfasilitasi kegiatan-kegiatan konservasi. Baru pada 2019, rintisan diskusi dan edukasi menjangkau luar cluster Riverside 1.

Selama rentang 2008 hingga 2014, beberapa studi banding telah dilakukan sebagai referensi untuk membangun model kegiatan edukasi. Lokasi studi banding antara lain; Rumah Perubahan Rhenald Kasali, Kandang Jurang Dick Doang, Babe Udin Kali Pesanggrahan, Yayasan Bambu Indonesia-Jatnika Nangga Miharja, Saung Angklung Mang Ujo, Nyoman Nuarta Galery, Wale-Bandung, dan Resto Selasih Bandung.

Sementara itu, sepanjang periode 2015 hingga sekarang, ia fokus untuk merintis jaringan di kalangan akademisi dan praktisi lingkungan seperti Sobirin Supardiyono, akademisi dan praktisi seni budaya Kang Imam Soleh, penulis buku DR.M.Masri Muadz. MSC, Pemerintah Daerah Kab. Bogor dan Provinsi Jabar, Komunitas Pendidikan Alternatif, dan WALHI Jabar.

Menggagas Ecoliteracy Di Lingkungan Masyarakat Urban

Sejauh ini, dalam relasinya dengan alam, manusia memang memiliki ketergantungan akut terkait dengan pemenuhan semua kebutuhan hidup. Sementara itu, alam membutuhkan manusia untuk menjaga keseimbangan dan membangun harmoni. Meski demikian, relasi tersebut seringkali menyuguhkan fakta lain di mana manusia cenderung dominan menguasai alam. Wataknya yang eksploitatif, sejak peradaban kuno hingga modern sekarang, menjadikan alam semakin tidak bersahabat. Berbagai bencana datang silih berganti, dari banjir, tsunami, gempa bumi, hingga covid-19, menggambarkan kemarahan alam terhadap manusia.

Bagi sebagian besar kalangan, ekologi bukanlah isu sexy dan populis, melainkan isu “pinggiran” yang tak banyak disukai orang. Selain kurang menarik, isu ekologi yang mengharuskan adanya kepedulian dan kerja-kerja sosial pelestarian lingkungan dianggap hanya menghabiskan waktu dan tidak profitable.

Meski demikian, alam sesungguhnya bukanlah gugusan material yang hanya sekedar dieksploitasi untuk menyokong peradaban manusia. Alam memerlukan keseimbangan ekosistem dan sentuhan lembut tangan-tangan manusia. Jarum sejarah telah menunjukkan bahwa sungai adalah sumber penting peradaban manusia dari zaman batu hingga zaman besi, dari era Mesopotamia hingga abad masyarakat informasi saat ini. Sungai Nil, Sungai Kuning, Sungai Tigris dan Efrat, serta Sungai Indus adalah deretan sungai besar yang menjadi penyokong lahirnya peradaban modern sekarang. Tanpa air, manusia tidak akan bisa hidup. Itulah tanda kebesaran Sang Khalik yang patut direnungkan. Alam harus dirangkul, bukan dimusuhi.

Terganggunya keseimbangan ekologis menjadikan ecoliteracy layak dijadikan referensi sebagai basis model kesadaran organik masyarakat urban. Ecoliteracy merupakan konsep dasar yang harus dimiliki manusia ketika berelasi dengan alam. Dalam konsep ini, sebuah gerakan perlu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran manusia akan pentingnya sebuah ekosistem yang berkelanjutan, konservasi lingkungan dan keadilan ekologis. Ecoliteracy merupakan kemampuan seseorang untuk memahami sistem alam yang memungkinkan kehidupan di bumi.

Alam adalah milik semua makhluk hidup. Manusia harus menyadari bahwa kehidupan ekologis tidak boleh dipandang sebagai proses mekanistik saja tetapi merupakan proses ekologis dan sistemik. Pada titik inilah, pemahaman akan konsep ecoliteracy memerlukan adanya kebijaksanaan alam (natural wisdom) yang digambarkan oleh Fritjof Capra (2004) sebagai kemampuan sistem-sistem ekologis planet bumi mengorganisir dirinya sendiri melalui cara-cara halus dan kompleks. Pendekatan alam memberi nilai intrinsik tersendiri seperti dimensi emosional, moral, estetika dan ilmiah.

Taubat Bumi diletakkan dalam konteks koreksi total atas perilaku manusia yang eksploitatif terhadap alam terutama di kawasan urban. Praktek eksploitasi berkepanjangan ini adalah potret tabiat buruk manusia dalam relasinya dengan alam. Praktek-praktek kejahatan manusia terhadap alam tidak saja mengganggu ekosistem lingkungan, tetapi juga merusak harmoni sosial dalam sejarah peradaban manusia.

Kita perlu melakukan koreksi terhadap paradigma klasik yang meletakkan alam hanya sebatas sumber daya. Paradigma ini memberi ruang bagi manusia untuk terus berperilaku tamak dan jahat terhadap alam. Taubat bumi adalah gerakan moral berbasis partisipasi citizen di lingkungan masyarakat urban untuk lebih mencintai dan menyelamatkan lingkungan.

Sungai akan berinteraksi dengan daerah aliran sungai melalui dua hubungan yaitu secara geohidrobiologi dengan alam dan secara sosial budaya dengan masyarakat setempat. Keberhasilan pengelolaan sungai sangat tergantung pada partisipasi masyarakat. Sebagai wadah air mengalir yang selalu berada di posisi paling rendah dalam lanskap bumi, kondisi sungai tidak dapat dipisahkan dari kondisi daerah aliran sungai. Disinilah gerakan Taubat Bumi menemukan relevansinya sebagai gerakan “memerdekakan” bantaran sungai dari kooptasi dan cengkeraman akut keserakahan manusia yang destruktif terhadap alam. (Red)

Berikut ini adalah foto-foto areal bantaran sungai di cluster Riverside 1 Perumahan Bukit Golf Cibubur

Lantai 2 Rumah Harris D, tempat lahirnya ide “Taubat Bumi” 13 tahun lalu
Suasana rindang dan hijau area Bantaran Sungai
“Nyate Sore” di area Bantaran Sungai
Diskusi ringan tokoh penggerak Taubat Bumi di area Bantaran Sungai
“Sate Sapi & Ayam EB”, produk kuliner lokal warga Bukit Golf
Salah satu pegiat lingkungan hijau sedang mencari inspirasi seraya ngopi sore
 Suasana Sunset di area bantaran sungai
Ngopi Sore & Nyate Bareng Penggerak Taubat Bumi
Diskusi Ringan Sambil Ngopi Sore
Ruang Terbuka Hijau Perumahan Bukit Golf Cibubur
Pegiat lingkungan sedang membagikan nasi bungkus buat para Ojol terdampak covid-19
Design “Pondok Baca” untuk memperkuat konsep ecoliteracy dan ekowisata di lingkungan urban
Categories: Kolom

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *