Gibran dan Panggung Politik Milenial

     
       

Yusa' Farchan
Direktur Eksekutif Citra Institute

 

Gelanggang pilkada semakin memacu adrenalin politik Gibran Rakabuming Raka (putra sulung Presiden Jokowi) untuk berlari kencang. Aktivitas dan jam terbang politik yang pendek, tak membuatnya ciut dalam arena sirkulasi kepemimpinan elite politik lokal. Tudingan miring politik dinasti, yang menembus langsung jantung kekuasaan negara, justru membuatnya semakin enerjik dalam merespons sekaligus mengelola harapan publik.

Di tahap candidacy, pebisnis kuliner ini melenggang mulus, mematahkan ekspektasi dan karier politik rival internalnya, Achmad Purnomo dalam bursa persaingan kandidat di internal partai.

Sejak mengantongi rekomendasi PDIP sebagai bakal calon (balon) Walikota Solo, nalar politiknya terus tumbuh, menggelayut di antara optimisme menang dan kecanggungan politik dalam habitat baru yang dilakoninya.

Gaya komunikasi politiknya mulai terbentuk. Meski berusaha keluar dari bayang-bayang Sang Presiden, legacy politik orang tua tampak masih kental dalam gaya blusukan-nya di sudut-sudut Kota Solo. Meskipun tumbuh dalam lingkungan politik dan mendapat sentuhan political mentorship sang ayah, gaya komunikasi politiknya pada beberapa titik masih terlihat kaku.

Kecenderungan tersebut setidaknya terekam dalam ekspresi dan penggunaan diksi “siapa pun musuhnya saya siap tempur” dalam menjawab pertanyaan awak media beberapa hari lalu. Pilihan diksi tersebut setidaknya memberi kesan vulgarism dan negative affect atas iklim pertarungan politik.

Pilkada sebagai ciri penting demokrasi prosedural, harus merefleksikan politik penuh kebahagiaan. Ketegangan-ketegangan yang dihadirkan dalam panggung demokrasi hanya akan merobek keberagaman politik sebagai fakta sosial yang sulit dihindari.

Beban psikologi yang berat sebagai anak Presiden, membuat insting politiknya diuji, bagaimana menang mutlak dengan cara-cara cerdas dan kreatif. Akses melimpah terhadap resources politik dan ekonomi menjadikan menang secara kuantitatif dengan selisih angka-angka statistik yang lebar, tidaklah cukup dalam kacamata demokrasi substansial. Gibran harus merengkuh kemenangan secara kualitatif untuk mengembalikan bandul demokrasi lokal yang terus berayun secara ekstrim ke arah demokrasi liberal-kapitalistik.

Dalam spektrum yang lebih luas, Gibran adalah harapan baru lahirnya panggung politik milenial yang cerdas dan sehat. Pebisnis Markobar ini tidak perlu mereproduksi cara-cara politisi pada umumnya yang berburu suara dengan kuasa uang, apalagi politik sembako (vote buying) di era pandemi.

Mewakili zamannya, Gibran harus tampil sebagai politisi milenial yang bisa menjadi sentrum literasi politik generasi milenial urban. Literasi politik milenial mengandaikan prinsip rasionalitas pilihan berbasis kreatifitas dan inovasi program untuk melompat jauh ke depan. Inilah panggung politik milenial yang merepresentasikan cara anak muda membangun ekosistem politik yang cerdas dan sehat.

Ekosistem politik milenial merefleksikan ekspresi dinamis dan kecepatan dalam merespons peristiwa-peristiwa politik melalui kanal-kanal teknologi informasi. Politik milenial adalah langgam politik masa kini yang perlu dihadirkan dalam menyambut sekaligus mengukuhkan optimisme yang berjalan merayap di tebing ketidakpastian ekonomi akibat pandemi corona.

Politik milenial bukanlah prototype politik yang meneguhkan demokrasi pasar. Sebaliknya, politik milenial dibangun berbasiskan uji argumentasi dan uji program untuk mengartikulasikan percepatan-percepatan dalam meluruskan kembali agenda reformasi yang bengkok terutama di level lokal (otonomi daerah).

Ekosistem politik milenial dibangun berdasarkan karakteristik milenial urban yang creative, confidence dan connected. Karakter kreatif melekat pada perilaku milenial yang lebih menyukai tantangan-tantangan baru termasuk dalam preferensi pekerjaan.

Pilihan profesi pada jejaring industri kreatif seperti content creator, programmer, gamer, vlogger, youtuber ataupun profesi-profesi independen lainnya, menandai elemen-elemen kreativitas pada generasi ini.

Karakter confidence menandai kepercayaan diri yang tinggi kelompok milenial dengan cara pandang optimisme dan interaksinya yang intens dalam berbagai dialektika dan perdebatan-perdebatan di ruang publik virtual. Terhadap fenomena politik, pada titik tertentu, milenial tampak tidak risih lagi berdebat atau mengekspresikan kemerdekaan berpikir dan partisipasi politiknya meski hanya melalui social media.

Sementara itu, karakter connected dicirikan dengan perilaku milenial yang selalu terhubung dengan perangkat teknologi informasi (gadget) sebagai sumber literasi dalam semua dimensi kehidupan.

Di ranah politik, yang cukup menarik adalah karakter detailed kelompok milenial. Karakter ini merefleksikan kecenderungan milenial urban yang menaruh perhatian ekstra, bukan pada narasi-narasi besar yang substantif, tapi pada narasi-narasi kecil seperti gaya rambut politisi, merek sepatu, jam tangan dan pakaian politisi, atau bahkan sisi-sisi privat seperti kehidupan keluarga politisi. Karakter milenial urban yang menaruh perhatian lebih pada narasi-narasi kecil tentu membutuhkan kepiawaian politik pemimpin milenial untuk mengelolanya.

“Kepo” tingkat tinggi dan ekspresi politik generasi milenial seringkali dimanifestasikan pada kecepatannya dalam merespons fenomena-fenomena politik. Meskipun hanya sekadar memencet tombol like, membagikan konten berita politik, atau komentar-komentar singkat melalui perangkat socmed, kelompok milenial menunjukkan awareness-nya terhadap isu-isu politik.

Pada titik inilah, perangkat tools harus dioptimalkan oleh (calon) pemimpin milenial untuk mengakselerasikan transformational leadership-nya dalam menyerap dan menghimpun aspirasi milenial. Digital habit yang terbentuk pada lingkungan milenial memberi efek positif bagi percepatan sosialisasi program-program pemimpin milenial.

Pilihan Gibran pada narasi besar “Melompat Lebih Maju” sangatlah tepat. Namun, narasi politik tersebut perlu ditopang dengan ekosistem politik yang sehat.

“Kita sudah tidak bicara lagi soal perubahan, kita bicara masalah lompatan, kita bicara percepatan, melompat agar lebih sejahtera lagi masyarakatnya” akan dicatat sejarah sebagai komitmen tulus anak milenial. Semoga narasinya tersebut bukan sekadar basa-basi dan janji manis politisi.

Di tangan kreatif milenial, Solo harus melesat melampaui zaman-nya dan menjadi trigger kota modern sebagai penyokong utama peradaban milenial.

 

*Artikel ini telah diterbitkan di SINDONEWS.COM. Original Source: https://nasional.sindonews.com/read/128228/18/gibran-dan-panggung-politik-milenial-1597025314/

0
0
0
s2sdefault